Jumat, 17 Februari 2012

Teruntuk Teman yang Salah Mengerti

For all my closed friends, friends, and everyone who knows me..
Semalem gue mendapati no mention dari sahabat gue sendiri yang menyudutkan kalo gue adalah orang yang galau konsisten, susah maju, dan malah di retweet sama orang yang juga sering galau. Deym! Kalian salah persepsi disini.

Gini, gue pernah mengalami satu titik dimana gue benar-benar merasa jatuh, sakit, dan have too much expectations, dulu, ketika gue baru putus 3 tahun lalu. Gue pernah selama beberapa bulan susah menerima kenyataan, sakitnya bukan main. Tapi setelah itu nggak. Tau kenapa? Di semester 2 ini gue punya sahabat yang namanya Geci, Saddam, Herman, Yanto, Arya, dan Ahdan yang tiap hari kumpul, main bareng, main UNO, makan bareng, yak! Tiap hari! Sampe akhirnya gue lupa sakitnya.

Beberapa bulan setelahnya, ada yang suka sama gue dan mengajak gue jadian, sahabat-sahabt gue bilang “why not to try?” sampe nyokap gue juga bilang begitu. Dan akhirnya gue jadian. Tapi gue lebih sering menghabiskan waktu sama sahabat-sahabat gue, jadi jarang dan sering nolak kalo diajak ketemu sama pacar. Sampe akhirnya si pacar ngajakin ke Dufan rame-rame. Tetapi perasaan gue lebih nyaman pas lagi sama temen-temen gue, dan hampir lupa kalo dia juga ikut waktu itu. Sampe gue berpikir, yang gue butuhin saat itu bukan pacar, tapi SAHABAT. Dan beberapa hari setelahnya, gue memutuskan untuk nggak pacaran dulu. Gue sangat kejam emang waktu itu, but it was my feeling, I haven’t needed boyfriend the most.

Sampe di semester 4 pun, gue ketemu sahabat-sahabat baru, ketika gue jatuh lagi, mereka membangunkan gue lagi. Di semester 4, masalahnya bukan masalah “cinta” tapi ada sedikit masalah keluarga, dan mereka selalu memberikan gue advice dan mengingatkan gue kalo gue itu nggak sendirian, masih ada mereka. Mereka itu Fani, Fathy, Sari, Indah, Keju, daaan mereka-mereka yang sampe sekarangpun nggak bosen main sama mereka.

Dan gue juga punya temen-temen kosan yang bahkan udah gue anggep keluarga gue sendiri. 6 cewek kosan Bandar Agung yang semuanya jomblo. Mereka selalu ada ketika gue butuh bantuan.

Hemmm, gini loh. Gue pernah galau, tapi bukan berarti gue masih galau sampe kini. Ngegalauin mantan? Oh, that was a joke and so last year. Cailaaaah. Gue nggak se-desperate itu pengen punya pacar kali. Apa yang bisa dilakuin sama pacar itu ya bisa dilakuin bareng-bareng sama temen kan? Nonton, makan bareng tiap hari, curhat, dan ketika butuh bantuan, pacaran sama punya sahabat itu satu banding 20. Mwahahaha.

Ini kali pertama gue nulis menggunakan kata “gue” di blog gue setelah 2 tahun lalu. Karena gue saking keselnya dan jari gue gatel karena emosi pengen ngejelasin semuanya. Gue pengen mengubah kata ganti “gue” ini pake kata yang lebih sopan, pengen nyoba nulis sedikit baku. Dan cara penulisan gue, kerangka pikir gue buat nulis itu ya cuma sebatas apa yang ada di pikiran gue saat itu, bukan berarti gue kayak gitu. Iya, gue emang suka nulis yang berbau masa lalu dan itu emang GALAU. Tapi gue sama sekali nggak begitu. Gue perjelas sekali lagi, gue hanya sekedar suka nulis. Di twitter di blog, dan entah dimanapun, tulisan gue ya yang seperti itu. Gue nggak bisa nulis selain tulisan romantic and sadness, karena jalan pikiran gue disitu.

Cita-cita gue dari jaman SD ya jadi penulis, tapi bukan penulis komedi. Tapi sampe sekarang belum kesampean. Hmmm. Makanya gue Cuma sekedar menulis di twitter dan di blog. Twitter itu microblog gue, semua aktivitas, imajinasi, ekspektasi, gue tumpahkan juga disitu.

Beberapa temen baru gue kayak Munif dan Tyo, tau kok kalo setiap kata-kata galau gue di twitter itu ya sekedar tulisan. Atau sesuatu yang pernah gue alamin dulu, atau cuma sekedar sekelebatan ide muncul di benak gue. Bukan, gue bukan orang yang nggak menghargai hidup dengan menyiksa diri berlama-lama di kesakitan.

Satu lagi, ada satu orang cewek yang nggak nyadar dirinya galau yang terlampau galau. Ini yang bikin gue jijik sendiri sama gue 2 tahun lalu yang pernah ngalamin hal kayak gitu juga. Orang ini juga sampe sekarang masih ngeluh “GUE PENGEN MATI” tetapi nggak mati-mati jugak. Gue cuma mau bilang (semoga ada yang nyadar), hidup itu indah kalo lo tau mau dibawa kemana arah hidup lo.

Teruntuk sahabat gue sendiri yang nyindir di twitter, gue nggak se-desperate itu. Mungkin gue belum cerita tentang cita-cita dan mimpi gue buat jadi penulis ke kalian sampe akhirnya salah mengartikan siapa gue sebenernya. Keluhan gue sebagai “jomblo” di twitter itu cuma becanda. Masa kalian nggak bisa bedain, sih? Gue nggak se-desperate itu. malah, pacaran is too mainstream buat gue saat ini. Menyita hobi dan aktivitas gue. Gue benci dilarang-larang dan diatur-atur. Dan ada beberapa temen gue yang curhat sambil nangisin pacarnya, diselingkuhin lah, dikasarin lah, dan sebagainya, malah ngebuat gue berpikir “ih apa banget sih nangisin hal yang nggak perlu”. Terakhir gue nangisin soal cinta-cintaan itu satu setengah yang lalu. Setelahnya malah ngebuat gue bisa berpikir pake logika, nggak terus-terusan pake perasaan.

Tulisan-tulisan gue itu inspirasinya dari @commaditya, @zarryhendrik, @adimasimmanuel, @falla_adinda, @moammaremka, dan penulis lainnya yang bener-bener bisa mengolah kata dengan bagus. Cek aja timeline-nya, kalian bakalan ngerasain kok. Tulisan kayak gitu itu indah, ngena kalo dibaca, galau sih, tapi gue sukaaaaak. Mereka-mereka yang ngebuat gue seperti ini. Bhihihik.
Teruntuk sahabat gue yang nyindir di twitter, cek favorit gue deh. Baca twit-twit gue. Gue emang sering nulis begitu. Bukan berarti ngerasain hal kayak gitu. Wong gue lagi nggak jatuh cinta sama siapa-siapa, buat siapa juga kayak gitu. Mwahahahaha.

Teruntuk sahabat gue yang belum begitu tau keinginan gue saat ini, support gue buat jadi penulis beneran kek. Jangan malah ngejatohin gue dengan ngata-ngatain. Katanya sahabat?

Yang pasti, gue bener-bener lagi jatuh cinta sama diri sendiri. X))

Minggu, 29 Januari 2012

Anita: "Raras itu jiwa sosialnya tinggi, cocok jadi Menteri Sosial. Kalo Renny rajin banget belajar, cocok banget jadi Menteri Pendidikan. Kalo Caca, cocok banget jadi Menteri Kebersihan, soalnya orangnya bersih banget. Kalo Azmi, cocoknya jadi Menteri Peranan Wanita, soalnya cewek banget. Kalo gue sih cocok banget jadi Menteri Keuangan, kan gue anak Akuntansi. Nah, kalo Anggi, cocoknya jadi Menteri Pertahanan. Pertahanan Hati"


- obrolan renyah bersama sahabat di malam ulang tahun Caca (Annisa Annur)

Jumat, 27 Januari 2012

Teruntuk Kamu, Gadis yang Pernah Mencintai Pria yang Sama

Aku mungkin terlalu lemah untuk melangkah maju. Ah, tidak! Aku bahkan tidak sama sekali ingin berjalan mundur. Hanya saja, lingkungan ini yang membuatku tak diam membicarakannya. Bukan, bukan karena aku ingin membicarakannya, tapi lingkunganlah yang memaksaku bercerita. Bagaimana tidak, aku beberapa ratus kali mengunjungi tempat singgah dia selama beberapa bulan ini. Ya, aku hanya sekedar benci dipojokkan oleh mereka dengan membawa masa laluku kembali. Ingin rasanya menolak pergi kesana, tetapi disana tempat dimana aku harus menyelesaikan skripsi minorku, teman-teman sekelompokku yang juga teman sepermainannya! Akh!

Aku tahu, kita pernah mencintai orang yang sama. Tapi itu hanya sekedar kata “pernah” loh. Aku, benar-benar tidak sama sekali untuk mau memutar momen masa lalu itu.

Aku hanya sekedar menjadikan “masa lalu”-ku itu sebagai objek dari tulisan-tulisan yang mereka bilang “bodoh” karena sama sekali aku susah bergerak maju. Tidak dan bukan sama sekali karena aku masih berjalan mundur. Bukan itu!

Terlebih untuk tulisan “Mencandu Rindu”, aku hanya sekedar ikut @hurufkecil untuk menulis tentang #kangenmantanunite, tidak berarti itu untuk dia. Itu hanya sekedar kisah masa lalu yang sekedar aku tumpahkan disana.

Ah, bodoh sekali memang jika membicarakan momen masa laluku itu. Tapi entah, rasanya teramat ingin berterimakasih kepadanya, itu benar-benar mengajarkanku untuk lebih berpikir menggunakan logika. Cinta bukan hanya sekedar rasa. Dan teramat sangat ingin meminta maaf, karena "masa lalu" masih sering aku jadikan objek untuk tulisan bodohku ini.

Dan teruntuk kamu! Hey, Gadis yang pernah mencintai pria yang sama!

Kita masih tetap sama!

Kita, sudah tidak mencinitai pria yang sama.

Tetapi kita mengagumi penulis yang sama pada akhirnya. Akh, Wira Triasmara Surya, entah pesona dan mantra apa yang kau tebar pada setiap kata yang kau bubuhkan dalam diari-mu itu.

Satu lagi, nama pria yang kita kagumi saat ini, mempunyai nama panggilan yang sama dengan pria yang “pernah” kita cintai dulu. Aneh dan lucu sekali. x))

Teruntuk kamu, aku sangat mengagumi tulisanmu pada diari elektronik-mu itu. Rasanya kita tidak perlu menguntit satu sama lain lagi, rasanya aku ingin bercengkrama dan berceloteh mengomentari baris-baris tulisanmu yang menyenangkan itu. Tidak, jangan pernah mengatakan “Mungkin kita tidak pernah bisa menjadi teman”. Sepertinya, menjadi temanmu, itu menjadi hal yang menyenangkan. J

Jumat, 13 Januari 2012

Mencandu Rindu

Aku baru ingat, ternyata dulu ketika aku menginginkanmu, aku memaksa Tuhan untuk menyampaikan pintaku padamu, aku memaksa Tuhan untuk menjadikanmu sesuatu yang berharga dihidupku dan yang mengisi kekosongan hatiku. Aku memaksa Tuhan sampai menangis hingga marah.

Ternyata Tuhan benar-benar mewujudkan pintaku!

Semuanya benar-benar terjadi sesuai pintaku pada Tuhan, keluhku pada Tuhan, hingga Tuhan benar-benar memudahkan apa yang sedang aku pikirkan! Ini yang aku benar-benar inginkan!

Kamu memberi senyum setiap pagi, mengirim sejuta kata manis melebihi manisnya senyummu, membalut hariku dengan segala ketenangan sikapmu, Ah. Indah sekali!

Aku bisa membuat iri perempuan-perempuan yang menunggumu, yang mencintaimu, yang mengagumimu, dengan cara menjadi perempuan yang membanggakan untuk kekasihku, dengan cara menunjukkan kehebatanku. Ya, mereka iri padaku karena cuma aku milikmu. Aku!

Ah, benar-benar masih serasa mimpi! Semua berjalan rapih seperti delusi imajin yang aku buat sebelumnya. Kamu mencintaiku,

Kamu menyayangiku,

Kamu mengasihiku,

Kamu mengagumiku,

Dan, ya! Kamu milikku!

Hari ke-546, kamu dan aku masih bersama, semakin lama kami bersama, ternyata semakin banyak deraan masalah. Keegoisanku menjadi candu. Semakin takut kehilangan kamu membuat aku benar-benar kehilanganmu.

Ah, benar saja! Kamu benar-benar hilang ketika itu. Kamu benar-benar hanya meninggalkan luka, memberiku pelajaran mendalam tentang ke-sakit-hati-an. Kami berakhir.

Kami berakhir.

Mungkin karena dulu aku terlalu memaksa Tuhan. Tak mengerti caranya bersyukur. Tak mengerti caranya mencintai atas dasar mengasihi dan atas dasar Tuhan. Dulu aku memaksa Tuhan, makanya kamu pergi.

Aku. Menyesal. Aku terlalu takut kehilangan kamu, hingga akhirnya kamu benar-benar hilang.

Sekarang, hari ke-492 setelah kamu pergi. Aku cuma bertanya, kapan kami bertemu untuk hanya sekedar saling bertukar senyum dan sapa? Karena untuk meminta hatimu, adalah hal yang delusional.

Aku. kencanduan. rindu. yang tak berkesudahan.

Selasa, 27 Desember 2011

Bukan Jatuh Cinta Diam-Diam

Aku tengadahkan tanganku keangkasa, aku selipkan namamu diatasnya, kemudian memejam mata sambil berkata dalam hati, “Aku mencintainya, Tuhan. Bisikkan rindu ini padanya, pelan-pelan”. – Doaku sore ini.

Sebulan terakhir ini, aku mengamati gerakmu. Mengikuti setiap langkah kakimu melalui mayanya dunia. Mereka bilang aku “Stalker” atau “Kepo”, hal tersebut bisa saja membuatmu sakit hati, katanya. Ah, bagiku asal aku bisa tahu banyak tentang kamu, aku bisa saja lebih mudah mengenalmu, siapa saja yang sedang dekat denganmu, bukan masalah besar bagiku, justru itu sangat membantu. Tapi kiranya aku salah, tahu banyak tentang kamu, membuat aku semakin jauh dan memilih mundur dan kecewa. Mereka benar, tidak enak menjadi seorang “Stalker”.

Tapi aku berpikir lagi, mencintai seseorang yang mencintai orang lain merupakan hal yang sering aku lakukan, tetapi setelahnya mundur tanpa basa-basi. Padahal sebenarnya masih bisa mencintai diam-diam kan? Tanpa harus berharap memilikinya adalah suatu keharusan. Ya, aku masih bisa mencintai kamu diam-diam. Ya, aku adalah yang masih memantau kamu, dari dunia maya.

Kamu adalah seorang penyair yang handal, setiap tulisan yang kamu coretkan dalam kertas (ah, maksudku dalam blogmu), setiap bait dalam puisi yang menghenyakkan hati, suaramu yang kamu upload pada soundcloud-mu, foto-fotomu yang lucu, segalanya tentang dirimu, ah, apakah kamu sama sekali tak berpikir betapa mudahnya kamu untuk dicintai? Sekalipun seringnya kamu menunjukkan cengkeramaanmu bersama yang kamu cintai, tak membuatku berhenti sampai disitu.

Setiap hari aku mengikutimu, sampai tanpa sengaja mengetahui selisih umurmu dengan pacarmu sangat bebeda jauh, hingga tahu juga kalian berbeda agama. Hal tersebut membuat diriku semakin semangat untuk tahu banyak tentang kalian, sama sekali bukan niat untuk mengacaukan, tetapi sungguh, aku sangat mengagumi pengorbanan percintaan dengan gap perbedaan agama bukanlah hal yang mudah, tetapi keras. Aku tepuk tangan untuk kalian untuk hal itu.

Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja juga aku mengetahui kalian memilih jalan sendiri-sendiri dan memutuskan hubungan. Senang, tapi sedikit iba. Ah entahlah, yang pasti, perasaanku kepadamu tidak berubah sedikitpun.

Jatuh cinta diam-diam? Tidak sepertinya, semalam aku sudah mengatakan aku jatuh cinta pada tulisan dan penulisnya lewat twitter, diapun menjawab “tentu saja, tidak ada yg melarang seseorang untuk jatuh cinta pada siapa saja :)”. Tuhan, aku semakin jatuh cinta.

Tahukah, aku sama sekali belum pernah melihat dirimu di dunia nyata, aku hanya melihat dirimu dalam kata-kata. Tapi tahukah, Tuhan pernah mengirimkan dirimu pada satu dari seribu mimpiku yang bahkan hanya kamu dan beberapa yang aku ingat.

Sekarang, aku hanyalah orang lain bagimu, seseorang yang asing. Tapi nanti, kita pasti bertemu di dunia nyata. Hingga akhirnya kamu tahu, aku lah yang pantas.


yang awalnya #cumanaksirunite tapi lama-lama jadi jatuh cinta beneran :))

tag: @hurufkecil

Jumat, 04 November 2011

Tuhan Bersamaku

Entah ini adalah teguran atau cobaan yang Tuhan berikan padaku, saat ini aku berada dalam ruang yang amat sangat tidak aku ketahui keberadaanku sendiri, maksudku, tempat yang tak ingin aku singgahi, tempat yang penuh masalah, penuh beban, penuh keberatan untuk menjalaninya.

Sejenak aku berfikir, kesalahan di masa lalu yang amat sangat banyak, berawal dari kesalahan kecil yang tidak diperbaiki, berakhirkan penyesalan, merasa diri adalah yang paling buruk di mata Tuhan. Jalan keluarnya adalah, memohon ampun dan menyelesaikannya satu-persatu.

Aku tahu, Tuhan tak pernah sekalipun tidur, bahkan memejamkan matanya untuk tidak perduli kepada makhluk-Nya, tapi Tuhan senantiasa melihat dan mendengar doa-doa umat manusia yang memohon kepada-Nya, dan akan menjawabnya tanpa berkata “TIDAK”. Tuhan akan selalu menjawab:

1. “Iya”

2. “Iya, tapi nanti, ketika kamu sudah benar-benar siap untuk mendapatkannya”

3. “Aku punya rencana yang lebih baik daripada itu”

Aku akan selalu percaya, Tuhan akan menjawab doa-doaku. Menghapus luka, menyelesaikan masalah dengan usaha dan doaku, menjadi manusia yang lebih baik untuk orang-orang yang menyayangiku, dan dia.

Aku menyayangi keluargaku, tolong selalu lindungi Mama, Papa, Shakty dan Icha, berikanlah selalu cinta dan kebahagiaan untuk keluargaku, juga untuk Almarhum kakakku, Adhes. Tolong bantu menyelesaikan segala permasalahan keluargaku, Tuhan. Hanya kepada-Mu aku memohon.